Aku menatap cermin dengan menunjukkan
senyuman terbaikku. Aku tampak cantik hari ini. Tak kusangka hari berbahagia
ini tiba. Aku akan menikah dengan pemuda impian. Pertemuan yang telah
direncanakan itu mengubah jalan pikiranku terutama hidupku.
Aku Puteri dari sebuah kerajaan, Kerajaan
Arkhadia. Namaku Mogisa. Sekarang aku benar-benar merasa pantas disebut sebagai seorang puteri. Dulu
semua orang selalu meremehkanku. Mereka bilang aku tak pantas disebut sebagai
seorang puteri. Kepribadianku sangat buruk, aku tak punya tata krama kepada
orang yang lebih tua. Aku berani menentang semua keputusan Ayah dan Ibu.
Mungkin itu adalah akibat karena aku anak tunggal dari Raja Arkadhia dan aku
merasa aku akan mendapatkan segalanya dari kedudukan Ayah dan Ibu. Kekuasaan,
harta, dan kehormatan Ayah dan Ibu akan jatuh ke tanganku.
Hingga suatu hari, Ayah sudah muak dengan
tingkah lakuku. Ia mengasingkanku di sebuah desa terpencil di perbatasan
wilayah kerajaaan. Ayah menyuruhku untuk menyembunyikan identitasku dan mencari
orang tua asuh. Ayah memberiku 100 keping emas sebagai bekalku.
Setelah tiba di desa itu tak seorang pun
yang ingin tinggal bersamaku karena semua orang tau perilakuku yang kurang
baik. Padahal aku bersedia memberikan 80 keping emas kepada siapa saja yang bersedia
menjadi orang tua asuhku. Hari sudah gelap dan rumah yang belum aku datangi
tinggal satu. Namun rumah ini tidak seperti yang aku bayangkan. Rumah ini
sangat kecil dan terbuat dari bambu. Aku mencoba untuk mengetuk pintunya.
“Oey, permisi, selamat malam,” ucapku.
Tetapi tidak terdengar jawaban dari dalam rumah. Akhirnya aku
mengetuk pintu dengan sangat keras. Sehingga sang pemilik rumah keluar.
“Ada apa? Malam-malam mengganggu saja,” bentak pemilik rumah.
“Nama saya Mogisa. Saya ingin anda menjadi orang tua asuh
saya. Saya akan memberikan 80 keping emas jika anda bersedia. Bagaimana?” tawarku.
“Bagaimana?” tanyaku
sekali lagi.
“Hanya 80 keping emas. Sedikit sekali, jika hanya segitu kamu
tidak bisa tinggal di rumahku,” katanya.
“Bagaimana jika 100 keping emas?” tawarku lagi.
“Tidak bisa, itu terlalu murah,” tolak pemilik rumah.
“Tolong saya, Bi,” pintaku. Baru kali ini aku sebagai seorang
puteri meminta tolong kepada orang lain.
“Baiklah, tetapi kamu harus menuruti semua apa yang aku
perintahkan,” ucap pemilik rumah.
Aku tidak langsung menjawab tawaran bibi itu. Aku berpikir
tidak ada satu orang pun yang berani menyuruhku. Dan kali ini aku harus
menuruti semua perintah bibi itu karena tidak memiliki pilihan lain.
“Baiklah Bi, saya setuju. Ini 100 keping emasnya,” ucapku
dengan menyodorkan sekantong emas.
“Ayo masuk, kamar kamu itu yang dibelakang di dekat dapur,
kamu bisa memanggilku Bibi Han,” jelas Bibi Han.
“Cepat kamu tidur besok kamu harus bangun pagi, dan
membantuku bekerja dan berjualan di pasar,” perintah Bibi Han.
Aku langsung menuju ke kamar yang
ditunjukkan sebagai kamarku. Aku terkejut melihat kondisi kamarku yang
sekarang. Kamar yang saat ini berbeda dengan kamarku di istana. Kamarku yang
sekarang kotor dan kecil. Akhirnya aku terpaksa membersihkan kamar ini. Kututup
hidungku ketika aku mengambil kain-kain yang berserakan. Wajar saja selama ini yang
membersihkan kamarku adalah para budak istana.
Ayam jago belum berkokok namun sudah
terdengar suara gedoran di pintu kamarku. Kubuka mataku dan aku mendengus
kesal, “Penderitaanku akan segera dimulai.” Aku segera berdiri membuka pintu.
Terlihat Bibi Han sedang berkacak pinggang. Dia membawa sapu dan 1 ember berisi
air.
“Cepat, pagi ini kamu memiliki tugas yang
berat. Kamu sapu seluruh rumah ini hingga bersih, tak boleh ada sedikit pun
debu yang tertinggal. Jika sampai ada debu yang tersisa, kau tidak akan
mendapat jatah makan malam ini,” ucap Bibi Han seraya pergi meninggalkanku.
Kusambut sapu pemberian Bibi. Aku segera
menyelesaikan tugas dari Bibi. Karena sejak kemarin aku belum makan. Jam sudah
menunjukkan pukul 10.00 pagi. Peluhku sudah bercucuran membasahi baju ku.
Perutku sudah semakin melilit cacing diperutku sudah tak lagi sabar. Aku
bergegas pergi ke dapur. Aku mengambil beberapa sisa makanan pagi di meja
makan. Beruntunglah Bibi Han tidak tau. Kubawa dan kumakan di dalam kamar.
Tepat setelah makanan ku habis terdengar suara Bibi Han memanggilku. Aku segera
berlari ke arah Bibi Han. Kemudian Bibi memberiku sekarung korek api.
“Untuk apa ini?” tanyaku.
“Coba jual korek api ini sampai habis di
pasar dekat sini. Jika belum habis kau tak usah pulang kesini,” perintah Bibi
Han.
Dengan berat hati ku langkahkan kaki ku menuju
pasar terdekat. Aku menata daganganku dengan rapi, agar menarik minat pembeli.
Namun hingga siang pun tak ada yang membeli korek apiku. Ketika aku sudah putus
asa, tiba-tiba ada seorang pemuda gagah dan tampan yang melihat barang
jualanku. Tak kusangka dia membeli seluruh korek apiku.
“Nona, berapa harga seluruh korek api
daganganmu?” tanya pemuda itu sembari tersenyum.
“20 keping emas. Apakah Tuan berniat untuk
membeli semua daganganku?” tanyaku.
“Iya, Nona,” pemuda itu menyodorkan sekantong
20 keping emas.
“Namaku Rein. Nama Nona siapa?” tanya Rein
sambil tersenyum.
Aku terkejut mendengar Pemuda yang bernama
Rein mengajakku berkenalan. “Namaku Mo..gi..sa..” ucapku dengan terbata.
“Baiklah, Nona Mogisa. Saya pergi dulu, sampai besok,” ucap Rein. Ia telah
pergi dan jauh dari pandangan mataku. Besok? Tanyaku dalam hati. Apakah ia akan
menemuiku lagi esok?
Keesokan harinya, aku bangun seperti
kemarin terbangun dengan malas. Kubersihkan lagi rumah hari ini. Dan aku
langsung berangkat menuju ke pasar untuk berjualan lagi. Tak kusangka ketika
aku sampai di pasar. Aku melihat Rein sedang duduk di tempat aku berjualan
kemarin.
“Tuan Rein,”sapaku.
“Hai Mogisa. Panggil sajaku Rein. Berapa
harga daganganmu hari ini?” tanya Rein.
“Tetap seperti kemarin, Rein, 20 keping
emas. Kamu ingin membeli lagi?” tanya Mogisa.
“ Iya, akan kubeli semua daganganmu hari
ini. Tetapi dengan satu syarat kamu harus menemanimu berkeliling desa,” tawar
Rein.
Rein ingin membeli semua daganganku hanya
dengan syarat menemaninya jalan-jalan? Hanya itu? Bolehlah jika hanya
jalan-jalan toh aku tidak mengeluarkan banyak tenaga “Baiklah, aku setuju,” kataku.
Setelah itu Rein mengajakku pergi bermain di pematang sawah. Kita bercanda
bersuka ria. Kita bermain air di sungai, mencari ikan dan membakarnya ditepi
sungai Tak kusangka ada pemuda yang mendekatiku ketika aku tidak memiliki harta
dan kekuasaan. Pemuda ini begitu sederhana, baik hati, tampan dan memiliki
tubuh yang gagah. Dahulu pemuda-pemuda kaya raya bahkan seorang pangeran pun
benyak yang mencoba mendekatiku. Tapi ternyata mereka hanya mengejar harta Ayah
dan Ibuku. Aku mulai tertarik dengan pemuda yang akhir-akhir datang secara
misterius mendekatiku, yaitu Rein. Ketika
aku pulang hari sudah malam. Aku berjalan mengendap-endap memasuki kamarku.
Beruntung Bibi Han sudah tertidur di kamarnya. Anehnya aku susah sekali
menghapuskan wajah Rein dari bayanganku. Ketika aku mencoba terpejam wajah rein
kembali terlihat. Namun wajah itu membuatku cepat tertidur pulas.
Keesokan harinya, aku bangun dengan
senyuman di bibir. “Selamat pagi dunia pagi ini begitu cerah,” sambutku dengan
bahagia. Kubersihkan rumah ini dengan bersenandung. Seusai membersihkan rumah
tak perlu beristirahat lagi aku langsung pergi berjualan ke pasar. Namun tak
seperti yang aku harapkan tak ada Rein disana. Aku berjualan pagi ini dengan
hati kesal. Ditambah dengan daganganku tidak ada satu pun membeli. Hingga
matahari tepat dia atas kepalaku, tiba-tiba Rein datang. Aku sangat senang dan aku
langsung bertanya, “Hai Rein, apakah kamu ingin membeli semua korek apiku
lagi?” tanyaku dengan yakin. “Tidak, Mogisa,” jawab Rein dengan tersenyum. Aku
terdiam. Aku merasa malu, tapi aku lebih merasa kesal mengapa Rein tidak
membeli semua daganganku kali ini. “Hahaha, muka Mogisa kenapa cemberut? Memang
benar aku tidak akan membeli semua daganganmu tapi aku akan membentumu
berjualan,” ucap Rein. “Sungguh?” ucapku
dengan mata berbinar. Jualan kali ini sangat laku sehingga semua daganganku
habis terjual. Karena banyak sekali para kaum wanita yang tertarik pada paras
Rein yang tampan sehingga membeli korek apiku. Hari ini kuhabiskan waktuku
bersama Rein di pasar. Dan aku hari ini tidak boleh pulang malam karena takut
Bibi Han curiga.
Sama seperti kemarin aku bangun dengan
semangat. Anehnya hari ini Bibi Han tidak menyuruhku membersihkan rumah lagi.
Tentunya tak perlu menunggu lama lagi aku langsung membawa sekarung korek api
menuju pasar. Hari ini Rein memang berjanji akan menemaniku berjualan dari pagi
hari. Dan benar Rein sudah menunggu di tempat biasa. Pada siang harinya
daganganku telah habis terjual. Dan Rein mengajakku pergi ke suatu danau yang
sangat indah. “Mogisa, akhir-akhir ini kita sering sekali bersama. Dan aku merasa
nyaman saat bersamamu. Aku menyukai lebih dari seorang sahabat. Bagaimana
denganmu?” ucap Rein. Aku terkejut karena Rein mengatakan tentang hal itu hari
ini. “Rein, aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Tapi maaf aku harus
pergi. Aku harus menemui orang tua kandungku. Maaf Rein,” ujarku sambil berlari
dan menangis. Di tengah jalan aku pergi ke pasar tadi pagi aku bertemu dengan
pengawal kerajaan yang membawa perintah dari Ayah agar aku kembali ke istana.
Hari itu juga aku langsung memutuskan
untuk pulang ke istana. Aku berpamitan kepada Bibi Han. Tak kusangka, Bibi Han
menangis ketika melepasku pergi. Di ujung jalan terlihat kereta kerajaan datang
untuk menjemputku. Aku tertidur di kereta. Dan ketika aku terbangun, aku
melihat bangunan mewah yang sering membuatku merasa angkuh.
Aku segera masuk dan menemui Ayah dan Ibu.
Kami bertiga berpelukan melepaskan rindu. Tiba-tiba ayah berkata “Putriku
sayang, malam ini akan ada tamu istimewa dari kerajaan kerabat. Kamu harus
tampil cantik malam ini. Karena ada seseorang yang akan bertemu denganmu. Dan
orang itu adalah calon pendampingmu,” ucap ayahku. Aku masih belum menyadari
kata-kata yang disampaikan ayah tadi.
Calon pendampingku? Ketika aku terpejam
terbaring di tempat tidur kamarku membayangkan calon pendampingku yang
terlintas hanya muka Rein. Ya, Rein, pemuda itu. Terbayang hari-hari indah yang
aku lewati bersama Rein. Sat mencari dan membakar ikan bersama. Saat berjualan
bersama di pasar.
Ah, aku tak sanggup membayangkan hari-hari
itu lagi. Terlalu banyak kenangan yang harus aku lupakan. Kali ini aku tidak
bisa membantah perintah Ayah. Karena aku sudah bertekad untuk menjadi seorang
Mogisa yang pantas dipanggil sebagai seorang putri.
Terdengar suara ketukan pintu. Dan muncul
beberapa budak istana yang diperintah Ayah untuk meriasku malam ini. Ketika aku
selesai dirias. Ayah masuk ke kamrku dan
mengajakku langsung ke ruang makan. Aku hanya sanggup tertunduk. Aku tidak
berani melihat ke arah calon pendampingku. Ketika ia menyapaku “Selamat malam,
Putri Mogisa.” Suara itu suara yang sangat kukenal. Ketika aku mencoba melihat
wajahnya secara langsung. Rein! Rein yang ada di depanku. Kali ini aku yakin
mataku sedang tidak terpejam. “Mogisa, kemarilah ada yang akan ayah bicarakan,”
kata Ayahku. Aku mencoba duduk bersebelahan dengan Ayah. Dan anehnya di sebelah
Rein ada Bibi Han. Ya, dia adalah orang tua asuhku dulu. “Putriku, Ayah yakin
kamu mengenal Bibi itu,” kata Ayah. “Bibi Han?” tanyaku. “Iya, sebenarnya ayah
sudah mengatur ini semua. Semua tentang pengasinganmu. Tentang Bibi Han dan...”
kata Ayah. Namun aku memotong pembicaraan Ayah ”Tentang Rein? Oh, maaf maksudku
Pangeran Rein juga rekayasa?” tanyaku tak percaya. “Iya,” Kata Ayah. “Apakah
semua yang terjadi antara kita hanya rekayasa Rein?” tanyaku. “Memang pertemuan
kita direncanakan, tetapi semua yang aku rasakan bukanlah sebuah rekayasa,” ucap
Rein meyakinkanku. “Benar itu bukan rekayasa?” tanyaku lagi untuk meyakinkan.
“Iya, Puteri Mogisa,” ucap Rein dengan senyum manisnya. “ Maafkan Ayah,
putriku. Ayah melakukan ini semua karena Ayah sayang kamu. Ayah tidak ingin
kamu kelak menjadi ratu dengan sikapmu yang dulu. Jadi ayah berpikir jalan ini
adalah yang terbaik,” jelas Ayahku. “Tidak apa, Ayah. Sekarang aku menyadari
bahwa perilakuku yang kemarin sering membuat orang lain kesal dan tidak pantas
disebut seorang puteri. Aku sayang Ayah,” ucapku dengan langsung memeluk
Ayah. “Bagaimana Mogisa Pangeran Rein apakah rencana
pernikahan ini akan tetap dilanjutkan?” tanya Ayah. “Tentu saja,” ucapku dan
Rein bersamaan. Raja Evan ayah Rein, Ibu Rein, Ayah, dan ibu. tertawa melihat
tingkah kami.
Sejak hari itu pernikahanku dan Rein mulai
dipersiapkan. Tiba-tiba suara ketukan pintu dan suara ayah yang memanggilku
menyadarkanku dari lamunan. Tak terasa lamunan bagaimana aku bertemu Rein
terpikirkan lagi olehku.
Dan saat ini, aku sedang berjalan di
antara ribuan tamu dan menggenggam tangan Ayahku menuju altar untuk menemui Rein.
Setelah upacara pemberkatan aku dan Rein memberikan lambaian dan senyuman
kepada rakyat kami. Tak kusangka yang saat ini berjalan disampingku dan sedang
menggenggam tanganku adalah bener-benar Rein, pemuda pembeli korek apiku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar