Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Mei 2014

Pemuda Pembeli Korek Api


Aku menatap cermin dengan menunjukkan senyuman terbaikku. Aku tampak cantik hari ini. Tak kusangka hari berbahagia ini tiba. Aku akan menikah dengan pemuda impian. Pertemuan yang telah direncanakan itu mengubah jalan pikiranku terutama hidupku.
Aku Puteri dari sebuah kerajaan, Kerajaan Arkhadia. Namaku Mogisa. Sekarang aku benar-benar merasa  pantas disebut sebagai seorang puteri. Dulu semua orang selalu meremehkanku. Mereka bilang aku tak pantas disebut sebagai seorang puteri. Kepribadianku sangat buruk, aku tak punya tata krama kepada orang yang lebih tua. Aku berani menentang semua keputusan Ayah dan Ibu. Mungkin itu adalah akibat karena aku anak tunggal dari Raja Arkadhia dan aku merasa aku akan mendapatkan segalanya dari kedudukan Ayah dan Ibu. Kekuasaan, harta, dan kehormatan Ayah dan Ibu akan jatuh ke tanganku.
Hingga suatu hari, Ayah sudah muak dengan tingkah lakuku. Ia mengasingkanku di sebuah desa terpencil di perbatasan wilayah kerajaaan. Ayah menyuruhku untuk menyembunyikan identitasku dan mencari orang tua asuh. Ayah memberiku 100 keping emas sebagai bekalku.
Setelah tiba di desa itu tak seorang pun yang ingin tinggal bersamaku karena semua orang tau perilakuku yang kurang baik. Padahal aku bersedia memberikan 80 keping emas kepada siapa saja yang bersedia menjadi orang tua asuhku. Hari sudah gelap dan rumah yang belum aku datangi tinggal satu. Namun rumah ini tidak seperti yang aku bayangkan. Rumah ini sangat kecil dan terbuat dari bambu. Aku mencoba untuk mengetuk pintunya.
“Oey, permisi, selamat malam,” ucapku.
Tetapi tidak terdengar jawaban dari dalam rumah. Akhirnya aku mengetuk pintu dengan sangat keras. Sehingga sang pemilik rumah keluar.
“Ada apa? Malam-malam mengganggu saja,” bentak pemilik rumah.
“Nama saya Mogisa. Saya ingin anda menjadi orang tua asuh saya. Saya akan memberikan 80 keping emas jika anda bersedia. Bagaimana?” tawarku.
 “Bagaimana?” tanyaku sekali lagi.
“Hanya 80 keping emas. Sedikit sekali, jika hanya segitu kamu tidak bisa tinggal di rumahku,” katanya.
“Bagaimana jika 100 keping emas?” tawarku lagi.
“Tidak bisa, itu terlalu murah,” tolak pemilik rumah.
“Tolong saya, Bi,” pintaku. Baru kali ini aku sebagai seorang puteri meminta tolong kepada orang lain.
“Baiklah, tetapi kamu harus menuruti semua apa yang aku perintahkan,” ucap pemilik rumah.
Aku tidak langsung menjawab tawaran bibi itu. Aku berpikir tidak ada satu orang pun yang berani menyuruhku. Dan kali ini aku harus menuruti semua perintah bibi itu karena tidak memiliki pilihan lain.
“Baiklah Bi, saya setuju. Ini 100 keping emasnya,” ucapku dengan menyodorkan sekantong emas.
“Ayo masuk, kamar kamu itu yang dibelakang di dekat dapur, kamu bisa memanggilku Bibi Han,” jelas Bibi Han.
“Cepat kamu tidur besok kamu harus bangun pagi, dan membantuku bekerja dan berjualan di pasar,” perintah Bibi Han.
Aku langsung menuju ke kamar yang ditunjukkan sebagai kamarku. Aku terkejut melihat kondisi kamarku yang sekarang. Kamar yang saat ini berbeda dengan kamarku di istana. Kamarku yang sekarang kotor dan kecil. Akhirnya aku terpaksa membersihkan kamar ini. Kututup hidungku ketika aku mengambil kain-kain yang berserakan. Wajar saja selama ini yang membersihkan kamarku adalah para budak istana.
Ayam jago belum berkokok namun sudah terdengar suara gedoran di pintu kamarku. Kubuka mataku dan aku mendengus kesal, “Penderitaanku akan segera dimulai.” Aku segera berdiri membuka pintu. Terlihat Bibi Han sedang berkacak pinggang. Dia membawa sapu dan 1 ember berisi air.
“Cepat, pagi ini kamu memiliki tugas yang berat. Kamu sapu seluruh rumah ini hingga bersih, tak boleh ada sedikit pun debu yang tertinggal. Jika sampai ada debu yang tersisa, kau tidak akan mendapat jatah makan malam ini,” ucap Bibi Han seraya pergi meninggalkanku.
Kusambut sapu pemberian Bibi. Aku segera menyelesaikan tugas dari Bibi. Karena sejak kemarin aku belum makan. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Peluhku sudah bercucuran membasahi baju ku. Perutku sudah semakin melilit cacing diperutku sudah tak lagi sabar. Aku bergegas pergi ke dapur. Aku mengambil beberapa sisa makanan pagi di meja makan. Beruntunglah Bibi Han tidak tau. Kubawa dan kumakan di dalam kamar. Tepat setelah makanan ku habis terdengar suara Bibi Han memanggilku. Aku segera berlari ke arah Bibi Han. Kemudian Bibi memberiku sekarung korek api.
“Untuk apa ini?” tanyaku.
“Coba jual korek api ini sampai habis di pasar dekat sini. Jika belum habis kau tak usah pulang kesini,” perintah Bibi Han.
Dengan berat hati ku langkahkan kaki ku menuju pasar terdekat. Aku menata daganganku dengan rapi, agar menarik minat pembeli. Namun hingga siang pun tak ada yang membeli korek apiku. Ketika aku sudah putus asa, tiba-tiba ada seorang pemuda gagah dan tampan yang melihat barang jualanku. Tak kusangka dia membeli seluruh korek apiku.
“Nona, berapa harga seluruh korek api daganganmu?” tanya pemuda itu sembari tersenyum.
“20 keping emas. Apakah Tuan berniat untuk membeli semua daganganku?” tanyaku.
“Iya, Nona,” pemuda itu menyodorkan sekantong 20 keping emas.
“Namaku Rein. Nama Nona siapa?” tanya Rein sambil tersenyum.
Aku terkejut mendengar Pemuda yang bernama Rein mengajakku berkenalan. “Namaku Mo..gi..sa..” ucapku dengan terbata. “Baiklah, Nona Mogisa. Saya pergi dulu, sampai besok,” ucap Rein. Ia telah pergi dan jauh dari pandangan mataku. Besok? Tanyaku dalam hati. Apakah ia akan menemuiku lagi esok?
Keesokan harinya, aku bangun seperti kemarin terbangun dengan malas. Kubersihkan lagi rumah hari ini. Dan aku langsung berangkat menuju ke pasar untuk berjualan lagi. Tak kusangka ketika aku sampai di pasar. Aku melihat Rein sedang duduk di tempat aku berjualan kemarin.
“Tuan Rein,”sapaku.
“Hai Mogisa. Panggil sajaku Rein. Berapa harga daganganmu hari ini?” tanya Rein.
“Tetap seperti kemarin, Rein, 20 keping emas. Kamu ingin membeli lagi?” tanya Mogisa.
“ Iya, akan kubeli semua daganganmu hari ini. Tetapi dengan satu syarat kamu harus menemanimu berkeliling desa,” tawar Rein.
Rein ingin membeli semua daganganku hanya dengan syarat menemaninya jalan-jalan? Hanya itu? Bolehlah jika hanya jalan-jalan toh aku tidak mengeluarkan banyak tenaga “Baiklah, aku setuju,” kataku. Setelah itu Rein mengajakku pergi bermain di pematang sawah. Kita bercanda bersuka ria. Kita bermain air di sungai, mencari ikan dan membakarnya ditepi sungai Tak kusangka ada pemuda yang mendekatiku ketika aku tidak memiliki harta dan kekuasaan. Pemuda ini begitu sederhana, baik hati, tampan dan memiliki tubuh yang gagah. Dahulu pemuda-pemuda kaya raya bahkan seorang pangeran pun benyak yang mencoba mendekatiku. Tapi ternyata mereka hanya mengejar harta Ayah dan Ibuku. Aku mulai tertarik dengan pemuda yang akhir-akhir datang secara misterius mendekatiku, yaitu Rein.  Ketika aku pulang hari sudah malam. Aku berjalan mengendap-endap memasuki kamarku. Beruntung Bibi Han sudah tertidur di kamarnya. Anehnya aku susah sekali menghapuskan wajah Rein dari bayanganku. Ketika aku mencoba terpejam wajah rein kembali terlihat. Namun wajah itu membuatku cepat tertidur pulas.
Keesokan harinya, aku bangun dengan senyuman di bibir. “Selamat pagi dunia pagi ini begitu cerah,” sambutku dengan bahagia. Kubersihkan rumah ini dengan bersenandung. Seusai membersihkan rumah tak perlu beristirahat lagi aku langsung pergi berjualan ke pasar. Namun tak seperti yang aku harapkan tak ada Rein disana. Aku berjualan pagi ini dengan hati kesal. Ditambah dengan daganganku tidak ada satu pun membeli. Hingga matahari tepat dia atas kepalaku, tiba-tiba Rein datang. Aku sangat senang dan aku langsung bertanya, “Hai Rein, apakah kamu ingin membeli semua korek apiku lagi?” tanyaku dengan yakin. “Tidak, Mogisa,” jawab Rein dengan tersenyum. Aku terdiam. Aku merasa malu, tapi aku lebih merasa kesal mengapa Rein tidak membeli semua daganganku kali ini. “Hahaha, muka Mogisa kenapa cemberut? Memang benar aku tidak akan membeli semua daganganmu tapi aku akan membentumu berjualan,” ucap Rein.  “Sungguh?” ucapku dengan mata berbinar. Jualan kali ini sangat laku sehingga semua daganganku habis terjual. Karena banyak sekali para kaum wanita yang tertarik pada paras Rein yang tampan sehingga membeli korek apiku. Hari ini kuhabiskan waktuku bersama Rein di pasar. Dan aku hari ini tidak boleh pulang malam karena takut Bibi Han curiga.
Sama seperti kemarin aku bangun dengan semangat. Anehnya hari ini Bibi Han tidak menyuruhku membersihkan rumah lagi. Tentunya tak perlu menunggu lama lagi aku langsung membawa sekarung korek api menuju pasar. Hari ini Rein memang berjanji akan menemaniku berjualan dari pagi hari. Dan benar Rein sudah menunggu di tempat biasa. Pada siang harinya daganganku telah habis terjual. Dan Rein mengajakku pergi ke suatu danau yang sangat indah. “Mogisa, akhir-akhir ini kita sering sekali bersama. Dan aku merasa nyaman saat bersamamu. Aku menyukai lebih dari seorang sahabat. Bagaimana denganmu?” ucap Rein. Aku terkejut karena Rein mengatakan tentang hal itu hari ini. “Rein, aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Tapi maaf aku harus pergi. Aku harus menemui orang tua kandungku. Maaf Rein,” ujarku sambil berlari dan menangis. Di tengah jalan aku pergi ke pasar tadi pagi aku bertemu dengan pengawal kerajaan yang membawa perintah dari Ayah agar aku kembali ke istana.
Hari itu juga aku langsung memutuskan untuk pulang ke istana. Aku berpamitan kepada Bibi Han. Tak kusangka, Bibi Han menangis ketika melepasku pergi. Di ujung jalan terlihat kereta kerajaan datang untuk menjemputku. Aku tertidur di kereta. Dan ketika aku terbangun, aku melihat bangunan mewah yang sering membuatku merasa angkuh.
Aku segera masuk dan menemui Ayah dan Ibu. Kami bertiga berpelukan melepaskan rindu. Tiba-tiba ayah berkata “Putriku sayang, malam ini akan ada tamu istimewa dari kerajaan kerabat. Kamu harus tampil cantik malam ini. Karena ada seseorang yang akan bertemu denganmu. Dan orang itu adalah calon pendampingmu,” ucap ayahku. Aku masih belum menyadari kata-kata yang disampaikan ayah tadi.
Calon pendampingku? Ketika aku terpejam terbaring di tempat tidur kamarku membayangkan calon pendampingku yang terlintas hanya muka Rein. Ya, Rein, pemuda itu. Terbayang hari-hari indah yang aku lewati bersama Rein. Sat mencari dan membakar ikan bersama. Saat berjualan bersama di pasar.
Ah, aku tak sanggup membayangkan hari-hari itu lagi. Terlalu banyak kenangan yang harus aku lupakan. Kali ini aku tidak bisa membantah perintah Ayah. Karena aku sudah bertekad untuk menjadi seorang Mogisa yang pantas dipanggil sebagai seorang putri.
Terdengar suara ketukan pintu. Dan muncul beberapa budak istana yang diperintah Ayah untuk meriasku malam ini. Ketika aku selesai dirias.  Ayah masuk ke kamrku dan mengajakku langsung ke ruang makan. Aku hanya sanggup tertunduk. Aku tidak berani melihat ke arah calon pendampingku. Ketika ia menyapaku “Selamat malam, Putri Mogisa.” Suara itu suara yang sangat kukenal. Ketika aku mencoba melihat wajahnya secara langsung. Rein! Rein yang ada di depanku. Kali ini aku yakin mataku sedang tidak terpejam. “Mogisa, kemarilah ada yang akan ayah bicarakan,” kata Ayahku. Aku mencoba duduk bersebelahan dengan Ayah. Dan anehnya di sebelah Rein ada Bibi Han. Ya, dia adalah orang tua asuhku dulu. “Putriku, Ayah yakin kamu mengenal Bibi itu,” kata Ayah. “Bibi Han?” tanyaku. “Iya, sebenarnya ayah sudah mengatur ini semua. Semua tentang pengasinganmu. Tentang Bibi Han dan...” kata Ayah. Namun aku memotong pembicaraan Ayah ”Tentang Rein? Oh, maaf maksudku Pangeran Rein juga rekayasa?” tanyaku tak percaya. “Iya,” Kata Ayah. “Apakah semua yang terjadi antara kita hanya rekayasa Rein?” tanyaku. “Memang pertemuan kita direncanakan, tetapi semua yang aku rasakan bukanlah sebuah rekayasa,” ucap Rein meyakinkanku. “Benar itu bukan rekayasa?” tanyaku lagi untuk meyakinkan. “Iya, Puteri Mogisa,” ucap Rein dengan senyum manisnya. “ Maafkan Ayah, putriku. Ayah melakukan ini semua karena Ayah sayang kamu. Ayah tidak ingin kamu kelak menjadi ratu dengan sikapmu yang dulu. Jadi ayah berpikir jalan ini adalah yang terbaik,” jelas Ayahku. “Tidak apa, Ayah. Sekarang aku menyadari bahwa perilakuku yang kemarin sering membuat orang lain kesal dan tidak pantas disebut seorang puteri. Aku sayang Ayah,” ucapku dengan langsung memeluk Ayah.   “Bagaimana Mogisa Pangeran Rein apakah rencana pernikahan ini akan tetap dilanjutkan?” tanya Ayah. “Tentu saja,” ucapku dan Rein bersamaan. Raja Evan ayah Rein, Ibu Rein, Ayah, dan ibu. tertawa melihat tingkah kami.
Sejak hari itu pernikahanku dan Rein mulai dipersiapkan. Tiba-tiba suara ketukan pintu dan suara ayah yang memanggilku menyadarkanku dari lamunan. Tak terasa lamunan bagaimana aku bertemu Rein terpikirkan lagi olehku.
Dan saat ini, aku sedang berjalan di antara ribuan tamu dan menggenggam tangan Ayahku menuju altar untuk menemui Rein. Setelah upacara pemberkatan aku dan Rein memberikan lambaian dan senyuman kepada rakyat kami. Tak kusangka yang saat ini berjalan disampingku dan sedang menggenggam tanganku adalah bener-benar Rein, pemuda pembeli korek apiku.